Showing posts with label Perjalanan Hidup. Show all posts
Showing posts with label Perjalanan Hidup. Show all posts

Thursday, 29 March 2012

Miskin itu indah .... Miskin itu nikmat .... Miskin itu motivasi .....


 Catatan kali ini tidak lagi menyinggung masalah sosial politik, ranah hukum ataupun usaha 'pencitraan' seseorang. Tetapi catatan kali ini hanya mewakili sekelumit kisah nyata masa kecil saya .....

   Miskin (harta) itu bukan suatu dosa, miskin itu bukan suatu penyakit menular yang mana dengan keadaan miskin, kita tidak dapat bergaul dengan kalangan yang sama, ataupun 2 (dua) kalangan di atasnya ; kalangan menengah dan atas. Sangat mudah menjalani hidup dari miskin menjadi kaya, akan tetapi dapat dengan mudahkah orang yang dulunya kaya kemudian dengan tiba-tiba menjadi miskin? Kalaupun ada, perbandingan yang muncul akan sangatlah kecil.
   Dulu ketika kami harus bergulat dengan kemiskinan, tidak banyak keinginan menghampiri, selain bagaimana menyiasati kemungkinan untuk dapat bertahan hidup. Masih terngiang ayah berkata ; "Putarlah otakmu dengan memaksimalkan telinga, mata, mulut, tangan dan kakimu."
   Tak banyak yang bisa aku dapat tentang makna kata-kata ayah. Baru setelah kami bisa melewati masa sulit, kebenaran kata-katanya termaknai dengan mudah. Contohnya saja di saat ada ketrampilan sekolah, dimana kami tidak punya uang untuk membeli bahan, berputarlah otak untuk mendaur ulang bahan-bahan yang ada di sekitar kita. Dengan demikian saya telah memutar otak dengan memaksimalkan telinga, mata, mulut, tangan dan kaki. Otak untuk berpikir, telinga dan mata untuk mendengar dan melihat bebagai peluang ketrampilan yang bisa saya buat. Mulut untuk bertanya, tangan untuk bekerja dan kaki untuk melangkah kepada hal-hal yang baik. Contoh yang lain,  ketika kami harus memaksimalkan lahan halaman menjadi sumber makanan kami sehari-hari, bahkan menjualnya jika kami rasa lebih.
   Miskin telah mengajarkan banyak hal ketika itu. Entrepreneur alami, belajar manajemen sampai pada sales marketing.
   Jika kala itu ada anak yang memprotes apa yang telah diberi kedua orangtuanya, bagi kami, jangankan memprotes, bisa bertahan hidup tanpa bantuan orang lain sudah sangat kami syukuri. Otak kami tersedot untuk menjadi seseorang yang lebih maju, melangkah setapak demi setapak untuk kemudian berlari menjauh dan menggapai masa depan yang lebih baik lagi .....
   Nah, inilah bukti bahwa miskin itu indah yang kemudian membawa suatu nikmat untuk disyukuri dan pada akhirnya memunculkan motivasi untuk maju.

"Tidak ada yang salah dengan kemiskinan kita. Kemiskinan hanya sekedar keadaan, tapi orang yang menilai arti kemiskinan itu yang terkadang salah dalam menilai ......





Hasil renungan pada hari Raya Idul Adha 1431 H.
Ã…rhus Denmark, 16 November 2010.

HANYA TUHAN YANG TAHU


Kisah ini bermula dari tempat kos di belakang rumah ...
Dua diantara penghuni kamar kos kuketahui di kemudian hari bahwa mereka adalah "anak malam". Beberapa orang yang kuanggap lebih pandai dalam menafsir Qur'an dan Hadist memberikan berbagai jawaban. Ada yang memberi jawaban bahwa uang yang kuterima dari mereka adalah "haram" dan secara langsung atau tidak langsung akan ber "efek" buruk pada keluarga. Tetapi ada pula yang memberi nasehat bahwa selaku manusia, kita tidak berhak untuk mengadili sesama manusia, dan menambahkan bahwa apakah dengan "menolak" akan menyadarkan mereka??
Bismillahirrahmaanirrahim .... kuturuti kata hati. Aku mempunyai pendapat yang sama dengan pendapat kedua.
Waktu terus berjalan. Aku tidak ingin menilai seseorang. Aku hanya berusaha untuk meraih "mereka", mensejajarkan mereka sama dengan penghuni kos yang lain. Pada saat "mereka" mempunyai masalah dan sharing, aku berusaha mendengar, kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan dan menyutikkan hal-hal positif (teori jarum suntik di ranah ilmu komunikasi), tanpa harus menggurui seolah-olah aku adalah yang paling benar. Aku masih ingat ;
“Sumber malapetaka terbesar adalah sikap sombong. Pangkal kesombongan adalah menerima anugerah ALLAH berupa ILMU, HARTA dan KEKUASAAN, tetapi tdk bersyukur. Maka dampingilah rasa syukurmu terhadap nikmat ALLAH dengan perasaan takut akan dicabutnya nikmat-nikmat ALLAH. Bila rasa takut itu telah menyatu dalam hatimu, maka tidak ada ruang lagi bagi hatimu untuk berbangga atas pujian-pujian manusia yang merupakan bibit dari kesombongan.”
Tidak mudah memang. Tanpa pertolongan dan RidhoNya, mungkin hal ini tidak akan terjadi.
Bulan lalu, satu diantara mereka kembali ke desa setelah membeli sawah, sapi dan kambing (SUBHANALLAH). Akhirnya jalan lurus yang dia pilih (dan aku tetap berdoa semoga jalan ini yang tetap ia pilih).
Bulan ini, giliran yang "satu" lagi (ALLAHU AKBAR). Dia terinspirasi oleh bisnis restauran dan laundry aku. Alhamdulillah .... (dan kembali aku berdoa semoga jalan ini yang tetap ia pilih).
Satu yang pasti bahwa hal ini tidaklah instan dan butuh proses.
Sahabat Menasehati : "Sesungguhnya kedudukan mulia dihadapan manusia yg kita raih saat ini BUKANLAH karena kemuliaan kita TAPI semua terjadi karena Allah Ta'ala masih berkenan MENUTUPI AIB-AIB kita… ALLAHUAKBAR!!!”


SOUVENIR AYAHKU PART II

  Suatu ketika dengan wajah termangu dan guratan yang teramat sedih, ayahku duduk di atas kursi kesayangannya yang tidak bisa lagi dikatakan empuk waktu itu. Aku yang juga baru pulang sekolah dan baru melepas sepatuku menjadi terheran-heran.
   "Ada kejadian seru di sekolah tadi, Ayah?"
   Helaan napas panjangnya terdengar, "Hari ini torehan dosa teramat besar telah Ayah lakukan. Menghardik keras anak yatim ...."
   Aneh, pikirku waktu itu. Aku segera duduk di hadapannya. Ayahku yang biasanya menggunakan satu jam istirahatnya dengan tidur sejenak untuk memulai kembali rutinitas mengajarnya, hari itu hanya diam termangu.
   Ya, dia ayahku. Mulai aku lahir sampai aku keluar dari rumah untuk merajut impian masa depanku, Dia ayahku, seorang guru matematika sederhana. Si "Oemar Bakrie" dengan sepeda "kumbangnya".
   Kalau sekarang ayah tahu keadaan para pendidik sudah sangat terbantu dengan adanya "sertifikasi", mungkin dia akan menjadi salah satu peserta sujud syukur massal meski akan dia lakukan di atas sajadah kumalnya.
   Ayahku, hampir setiap hari mengajar di Muhammadiyah, sekolah swasta milik Yayasan Muhammadiyah di kotamadya Probolinggo, Jawa Timur. SMP, SMA, dan SMEA (istilah pada saat itu). Hhhmm, seandainya waktu itu ada bantuan subsidi silang intern yayasan Muhammadiyah, pastilah secara rutin gaji ayah akan terpenuhi. Tidak di "hutang" secara berkala oleh pihak sekolah karena kesulitan keuangan. Seperti membayar kredit di BTN.
   Ya, ayahku memang sering tidak menerima gaji bulanannya secara intens. Entahlah, yang tak kumengerti, dia tetap rajin menjalankan profesinya, mendidik dan membagi ilmu yang dia punya secara profesional dan kedisiplinan waktu.
   Kata ayah, mengajar di Muhammadiyah adalah tabungan yang dia lakukan untuk masa depannya di akherat. Sementara mengajar anak-anak keturunan "Cina" secara private (pribadi) adalah perjuangan dia untuk keluarganya di dunia.
   "Kuhardik anak ini karena ibunya ... " suara parau ayah membuatku terhenyak. "Ya, ibunya hanya seorang pembantu sejak suaminya meninggal. Sang ibu hanya ingin anaknya bisa menyelesaikan sekolah menengahnya."
   "Terus?" hanya itu kalimat yang dapat meluncur dari bibirku saat itu.
   "Beberapa minggu ini sang anak tidak mau masuk sekolah hanya karena keinginan memiliki sebuah sepeda motor yang tak bisa ibunya penuhi", ucapan ayah mulai meninggi.
   "Hampir kutampar dia. Bukan karena ayah marah, tapi karena rasa iba ayah pada ibunya yang berjiwa besar melanjutkan tanggung jawab almarhum suaminya membesarkan anak-anaknya ... "
   Ya, moment itu masih tergambar dan terngiang jelas pada diriku hingga saat ini. Dan entah karena kejadian itu, doa ayahku sebagai guru "kesayangannya", atau doa tulus ikhlas ibunya, dia dapat lulus dan bahkan mengalahkan teman satu kelas yang selalu menempati ranking 3. Entahlah, ayah juga heran waktu itu.
   Satu yang menjadi patokanku hingga kini. Kalau ayah bisa membagi hidupnya, dunia dan akherat seperti itu, haruskah aku "congkak" dengan keadaan yang sudah kuanggap sangat "luar biasa" ini?
   Allah SWT sungguh pemurah. Dan dengan kemurahanNya, Dia bagikan hari Raya kepadaku, setelah sekian lama berpuasa menjalani masa anak-anak dan masa remajaku dengan hidup penuh kesederhanaan. Sangat!


Aarhus - Denmark, 25 Maret 2012

SOUVENIR AYAHKU PART I



Ada satu pelajaran yang kupetik dari ayah tentang bagaimana menangani suatu permasalahan ;

"Jangan pernah fokus pada "apa" yang menjadi penyebab suatu masalah, tetapi berusahalah untuk fokus pada pemecahan. Jangan berkutat mencari cara supaya berhasil, tetapi kembangkan apa yang ada. Dan jangan meminta bantuan orang lain, tetapi sebaliknya, berusahalah membantu orang lain. Meskipun nantinya kamu kelihatan sebagai orang yang tidak punya (harta), tetapi dilihat dari segi pengalaman, cara, usaha, dan kesabaran, kamu sudah termasuk pribadi yang kaya."

Tinggal bagaimana pengembangan (improvisasi) dari nasehat di atas yang akan membawa pada kesuksesan. Insyaallah ....