Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Tuesday, 24 July 2012

SABAR DAN IKHLAS


Hadirnya tak di harap, hilangnya pun tak dianggap. JANGAN merasa hidup nggak berguna bila cita-cita tidak tercapai. GAGAL saat ini bukan kegagalan yang hakiki. Cuma sebuah kesuksesan yg tertunda, kesuksesan yang menuntut kita untuk lebih bersabar. Kita memang tidak bisa merubah keadaan, tapi kita bisa mengubah sikap kita ketika menghadapinya. Ibarat kata, kita tidak bisa merubah arah angin, tapi kita bisa mengubah arah sayap kita.

The presence of such an in hope, not be considered a loss. DON'T feel life is not useful when dreams can not achieved. This is not a failure when UNABLE to reply was essential. Just a delayed success, success requires us to reply more patient. We can not change the State of affairs indeed, but we can change our attitude when dealing with it. Like Word, we can not change the wind direction, but we can change the direction of our wings .....

Monday, 11 June 2012

Hidup Terkadang Tak Adil, Jangan Sedih dan Jangan Pula Lupa Diri


Dalam kehidupan sehari-hari terkadang kita dihadapkan pada sebuah pernyataan  “Life is not fair” atau  “hidup itu tak adil”, termasuk menyangkut berbagai kejadian yang relevan dengannya. Apakah anda merasa setuju dengan pernyataan tersebut ? Siapa yang pernah berpikir atau merasakan hal yang sama ?

Dahulu ketika masih kecil banyak barangkali dari kita yang tak memikirkan atau tak menyadarinya. Terutama bagi mereka yang kehidupannya relatif damai sejahtera, tercukupi segala kebutuhan dari orang tuanya.

Ada moment-moment yang memantik atau memancing kesadaran saya akan sebuah realita ini, dimana salah satunya adalah ketika memiliki sahabat yang selama berhubungan dengannya terbukti menunjukkan kualitas intelektualnya. Hanya saja karena banyak sebab yang terkait erat dengan tidak adanya dukungan finansial maupun perhatian akan pendidikan dari orang tuanya, ia hanya bisa tamat SMA di kampung halamannya sehingga harus berjuang merantau ke kota seorang diri, mengenyam berbagai pekerjaan termasuk yang barangkali dianggap rendahan, dan sudah pernah berpindah-pindah kerja dari waktu ke waktu. Padahal, saya tahu bahwa kemampuan berpikir, daya nalar, kreativitas, sikap kritis, dan rasa ingin tahunya melebihi banyak mahasiswa atau lulusan universitas yang saya ketahui. “What a waste of talent !” Sebuah potensi yang tak termaksimalkan dari seorang anak bangsa yang berkualitas.

Semenjak saat itu setiap kali saya melihat anak-anak gelandangan atau yang meminta-minta di perempatan jalan, yang terbersit di pikiran adalah kehidupan yang memang tak adil bagi sebagian (banyak) orang. Saya masih ingat ketika masih remaja, ada teman yang berkata kira-kira begini kepada salah seorang anak kecil yang meminta-minta, “Dik, kalau ingin sukses (kaya/dapat uang) jangan minta-minta, tapi belajar di sekolah.”  Ketika itu saya menganggap biasa saja atau merasa tak ada yang salah dari ucapan tersebut. Akan tetapi, saat ini saya pasti akan mengkiritisinya.

Saya yakin di antara anak-anak gelandangan dan pengemis itu banyak yang ingin bersekolah seperti anak-anak lain yang sebaya dengan mereka. Di antara mereka itu juga tak sedikit yang memiliki rasa ingin tahu atau semangat belajar yang besar. Pernah saya temukan, anak-anak kecil yang biasanya meminta-minta atau berjualan di perempatan jalan berkumpul bersama teman-temannya membaca dengan serius berita atau artikel di surat kabar, walaupun dengan terbata-bata, sambil bersimpuh di trotoar jalan. Sebenarnya, orang tua mereka lah yang tidak mengarahkan, tidak berusaha, atau tidak mementingkan pendidikan bagi anak-anak mereka. Anak-anak kecil yang polos dan lugu itu tentulah belum akan mengerti bagaimana pentingnya sekolah bagi masa depan. Mereka hanya bisa mengikuti arahan orang tua atau pengasuh mereka. Jika orang tua tidak menyekolahkan mereka, tentu tak bisa kita menyalahkan atau berbicara pada anak-anak kecil itu bahwa mereka seharusnya sekolah daripada meminta-minta. Orang tuanya lah yang patut kita salahkan, dan kalau ditarik benang merahnya ke atas, tanggung jawabnya akan sampai ke masyarakat atau pemerintah yang tidak mau peduli dengan masa depan sebagian generasi penerus bangsa ini.

Kisah sahabat saya dan nasib anak-anak jalanan tersebut hanyalah sebuah gambaran atau contoh betapa hidup itu terkadang tak adil. Akan tetapi belumlah cukup ketika itu bagi saya untuk meresapi hakekatnya dan sampai pada pernyataan bahwa memang hidup itu tak adil. Adalah komentar yang pernah dikeluarkan seorang dosen ketika membalas email mahasiswanya yang menimbulkan penguatan atau penegasan di pikiran saya tentang hal ini.

“Life is indeed not fair,” adalah suatu kalimat pembuka jawaban email darinya menyangkut saran seorang mahasiswa yang sedikit “concern” tentang sesuatu hal yang saya sudah lupa. Suatu kalimat yang membekas di pikiran, karena kalimat tersebut keluar dari seorang intelektual, dosen sekaligus ilmuwan di bidangnya, yang telah mencicipi asam garam kehidupan dengan kematangan usianya sebagai seorang lelaki, yang sebagian di antaranya dihabiskan di universitas-universitas top dunia sebelum ia sampai di kampus saya.

Sejak saat itu saya menjadi lebih sensitif dalam memperoleh contoh-contoh ketidakadilan dalam hidup.

Dalam kehidupan akan mudah kita temui orang-orang memiliki pekerjaan di bidang tertentu yang lebih berat dan sulit, tapi digaji lebih rendah daripada orang-orang yang bekerja di bidang lain (catatan : tak masalah dan bukanlah tak fair jika dalam pekerjaan yang lebih sulit tersebut terdapat  passion, kepuasan batin, dan minat/semangat yang tinggi dari mereka yang bekerja). Ada orang yang terlahir dari keluarga kaya raya, dengan semua kebutuhan tercukupi dengan mudah. Untuk masalah pendidikan, mereka tinggal belajar dan bisa disekolahkan oleh orang tua mereka hingga ke luar negeri. Di antara mereka banyak juga yang tinggal meneruskan bisnis atau perusahaan yang telah dirintis oleh orang tua atau keluarga. Di satu sisi, ada juga orang yang semasa kecilnya harus hidup serba kekurangan dan penuh dengan keprihatinan. Untuk bersekolah pun harus berhutang ke sana sini atau sambil bekerja untuk menambal kekurangannya.

Ada orang yang terlahir dengan muka pas-pasan (kalau tidak lah disebut jelek), apalagi yang terlahir dengan cacat di tubuhnya. Di satu sisi, ada yang terlahir dengan kesehatan yang baik, fisik yang prima, dan tampang yang memikat.

Ada yang terlahir sebagai seorang yang cerdas, memiliki daya hapal/ daya ingat yang kuat sehingga mudah dalam belajar atau memahami sesuatu. Di sisi lain, ada yang terlahir dengan otak pas-pasan sehingga harus belajar ekstra keras, berulang-ulang kali dalam kurun waktu tertentu untuk memahami sesuatu.

Ada yang terlahir dengan orang tua yang lengkap serta mendapatkan kasih sayang penuh dari kedua orangtua / keluarganya. Ada yang terlahir tanpa pernah melihat kedua orang tuanya. Ada juga yang harus menerima kenyataan pahit memiliki rumah tangga yang berantakan yang diwarnai percekcokan di antara kedua orang tuanya.

Masih banyak lagi contoh-contoh tentang realita kehidupan yang tak sama atau tak adil yang dialami satu orang dengan yang lain, dimana pembaca pasti bisa menambahkan contohnya yang lain.

Ada satu hal yang hendak saya tekankan disini terkait penjelasan di atas, yakni ada berbagai faktor penyebab kesuksesan seseorang (dalam konteks kacamata keduniawian). Tak selamanya dan tak selalu apa yang diperoleh seseorang, bila dibandingkan dengan yang diperoleh orang lain, adalah gambaran seberapa keras hasil usaha dan kerja kerasnya dibandingkan usaha atau kerja keras orang lain. Jika A bekerja lebih keras dan lebih rajin daripada si B, belum tentu posisi si A lebih tinggi daripada si B di mata dunia.

Itulah kenyataannya, dan itulah suatu realita kerasnya dan tidak fair nya kehidupan.

Lantas apakah kita harus bersedih hati, patah semangat, berputus asa, atau takut menghadapi kenyataan tersebut ? Apakah perlu orang-orang yang menghadapi kenyataan bahwa memang dunia tidak berpihak pada mereka mengeluarkan kata-kata umpatan atau protes pada kehidupan itu sendiri ?

Tak perlu begitu. Masing-masing orang memang sudah ada suratan takdirnya. Tugas kita hanyalah berusaha dengan sebaik-baiknya, selalu meningkatkan kualitas diri, mempelajari segala kesalahan dan kekurangan yang ada, lalu memanfaatnya untuk hari esok yang lebih baik. Bolehlah dari sudut pandang dunia orang lain lebih tinggi posisinya atau lebih mudah menggapai cita-cita dan kenyamanan hidupnya. Tapi perlu diingat bahwa hari ini, detik ini, bukanlah titik akhir atau garis finish dari kehidupan itu sendiri. Masih ada hari-hari panjang ke depan untuk mengejar ketertinggalan sampai ajal pun tiba. Dan posisi yang diperoleh seseorang saat ini bukanlah tolak ukur yang objektif tentang arti sebuah kesuksesan yang sesungguhnya. Tak ada indahnya sebuah kesuksesan yang didapat tanpa banyak kisah, cucuran keringat, dan air mata. Bisa sampai pada anak tangga teratas beranjak dari anak tangga di tengah-tengah tentunya tidaklah sehebat orang yang sampai pada tangga teratas (atau barangkali cuma sampai di tiga perempatnya) akan tetapi diperolehnya mulai dari anak tangga yang paling bawah. Mengerti maksudnya ? Ya, bagi saya tolak ukur kesuksesan yang sesungguhnya itu adalah seberapa jauh dan seberapa besar usaha yang telah dikeluarkan untuk memanfaatkan potensi yang kita miliki dalam kehidupan.

Anak jenius jadi juara kelas itu biasa, tapi adalah luar biasa anak biasa yang mengalahkan sang jenius dengan kerja kerasnya. Hal ini diakibatkan sang jenius gagal memanfaatkan potensi dirinya semaksimal mungkin yang tak seharusnya bisa dikalahkan oleh anak biasa.  Sang jenius baru layak dihargai jika ia berhasil berkreasi dan menemukan penemuan penting dalam kehidupan yang bermanfaat bagi dirinya dan sesama. Well, I am talking about the difference level of playing ground here. Barulah adil kalau tikus diadu sesama tikus, atau kucing diadu sesama kucing. Jika tikus diadu dengan kucing, ya harusnya kucing (pasti) akan menang, walaupun tak betul-betul 100% kemungkinan kucing tak terkalahkan oleh tikus (jadi teringat film kartun Tom & Jerry).

Jadi, dalam hidup tak usah kita terlalu berorientasi melihat posisi yang diperoleh orang lain. Fokus saja pada pencapaian atau perolehan pribadi sebaik-baik mungkin dengan memanfaatkan potensi dan kekuatan diri yang ada dan dengan kerja keras. Dalam hidup, kita tak tahu betul apakah memang orang yang posisinya di atas kita lebih dikarenakan dunia yang lebih berpihak pada mereka (berposisi sebagai kucing, mengambil analaogi di atas). Bisa jadi mereka memang di atas kita karena mereka lebih keras usahanya, lebih banyak cucuran keringat dan air matanya, hanya saja kita tak mengetahuinya. Ya, bisa saja orang yang kita anggap kucing, ternyata sebenarnya adalah juga tikus sebagaimana diri kita, hanyasaja  kita tak menyadarinya karena terhalang oleh kabut iri dan dengki.

Pada prinsipnya dalam hidup tetap berlaku prinsip:  siapa yang menabur benih dialah yang akan menuai hasilnya. Orang yang terus berusaha keras, tak pernah patah semangat dan putus asa, tak peduli halangan dan berapa banyak kegagalan yang akan atau pernah dialaminya, pada akhirnya ia akan sampai juga pada kesuksesan itu. Hanya tinggal menunggu waktunya saja. Hanya dua hal yang barangkali bisa menggagalkan pencapaiannya tersebut yakni ajal dan takdir Ilahi. Tapi, walaupun takdir tak berpihak padanya seperti diakibatkan ajal yang terlanjur cepat datang, sesungguhnya ia sudah menjadi pemenang. Sebagai umat beragama, hasil usaha kerja kerasnya akan sampai juga padanya dengan bentuk yang lebih baik di kehidupan setelah mati asalkan selama berusaha di dunia ia tetap tak lupa akan Tuhannya dan tetap konsisten melakukan amal kebajikan. Dan untungnya segala usaha manusia, termasuk dalam rangka memenuhi kebutuhan di dunianya, asalkan dilakukan dengan niat yang baik, pasti diberi ganjaran pahala dari yang Tuhan Yang Maha Esa.  So, in the end, nothing to lose …

Bagaimana dengan orang-orang yang merasa dirinya telah sukses ? Jika ia sadar bahwa tak selalu dan tak semata-mata keberhasilannya diperoleh hanya akibat atau hasil kerja kerasnya (karena sesungguhnya ada banyak faktor yang mempengaruhi kesuksesan itu, termasuk keberuntungan/takdir sebagaimana penjelasan di atas), maka harusnya ia menjauhi sifat sombong atau lupa diri. Ia harusnya banyak bersyukur dan menggunakan nikmat yang diperolehnya tersebut dengan jalan yang baik dan bijaksana. Selain itu perlu diingat, jika ia berada di atas sekarang, belum tentu besok atau selamanya akan tetap begitu adanya. Hidup terkadang bagaikan roda berputar, kadang di atas kadang di bawah. Telah banyak contoh kejatuhan seseorang pada titik tertinggi kehidupannya semata-mata karena keterlenaannya akan kehidupan itu sendiri. Dan perlu diingat juga, jika ia adalah seorang pemeluk agama dan percaya pada Tuhan, sesungguhnya kehidupan dunia ini adalah sementara dan tak ada apa-apanya di bandingkan kehidupan setelahnya. Tak peduli seberapa banyak harta bendanya saat ini, seberapa besar pengaruh dan kekuasaannya, sesungguhnya pada akhirnya ia juga akan mati. Dan kelak segala usaha, amal perbuatannya akan dipertanggung jawabkan dihadapan dan dibalas seadil-adilnya oleh Yang Maha Kuasa.

Hidup memang terkadang tak adil, dan seringkali keras. Tapi tetaplah berbesar hati kawan, dan berusaha sebaik yang anda yang bisa. Jangan sedih bagi yang belum berhasil dalam hidup, dan jangan pula lupa diri bagi yang telah merasakan kesuksesan tersebut.


Sumber :
http://horizonwatcher.blogdetik.com/2011/10/12/hidup-terkadang-tak-adiljangan-sedih-dan-jangan-pula-lupa-diri/

Sunday, 15 April 2012

Apa Yang Saya Cari Dalam Hidup Saya?


   “What am I looking for in my life?” alias “Apakah yang saya cari dalam hidup saya?” 
  Setiap orang dalam periode tertentu akan melalui fase pencarian jati diri. Pencarian jati diri diperoleh dari berbagai hal yang didapat dari proses belajar dan bagaimana kita memaknai perjalanan hidup yang telah dilewati. Belajar untuk MENGETAHUI (to know), MELAKUKAN (to do), BERINTERAKSI dengan orang lain (to live together) dan akhirnya MENJADI (to be).
   Belajar dari keberhasilan dan kegagalan yang dialami. Setiap orang memiliki tujuan hidupnya masing-masing dan cara mencapai tujuan hidup pun setiap orang berbeda. Tujuan hidup itulah yang ingin kita capai di dalam kehidupan kita. Bukankah begitu? Begitu bukan? 
  Terlepas dari APA tujuan hidup tiap manusia, karena pasti setiap manusia memiliki jawaban yang berbeda, berhasil atau gagal tergantung pada upaya dan kerja keras setiap orang. Ada orang yang merasa apa yang telah dicapainya saat ini  belum apa-apa, padahal orang lain melihat bahwa ia telah mencapai keberhasilan besar, karena ia selalu melihat dirinya dari sudut pandangnya dan selalu membandingkan keberhasilan orang lain sebagai persaingan negatif, sehingga tidak MENGHARGAI apa yang telah dicapai dan selalu merasa kurang.    
   Pada akhirnya timbul kalimat “Aku tidak berarti apa-apa atau siapa-siapa.” Ada juga sebaliknya, orang yang selalu bersyukur atas semua prestasi dan membuat keberhasilan orang lain sebagai motivasi untuk mencapai hasil yang lebih baik. Membuat hidupnya selalu dipenuhi dengan warna-warna yang indah. 
  Jadi pertanyaan : "apa yang saya cari dalam kehidupan saya?" atau pernyataan : "saya bukan siapa siapa-siapa" tidak pernah terbesit dalam pikiran kita. Karena jawabannya ada pada diri kita sendiri, hanya kita yang dapat menemukan jawabannya. Karena hidup adalah bagaimana kita mewarnai kehidupan itu sendiri dan seberapa keras usaha kita untuk mencapainya. Selalu bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki, mencintai, menyayangi, memperhatikan, BERBAGI kepada orang-orang yang memerlukan adalah hal terindah dan membuat hidup kita memiliki makna.

   Jadi … “Apa yang Anda cari dalam hidup Anda?” atau “Ingin menjadi siapa Saya dalam hidup Saya?” Andalah yang menentukan!


Thursday, 29 March 2012

LOVE ALLAH SWT




Maafkan aku karena tidak sempurna
Bismillahirrohmanirrohiiim......
Hidup di dunia ini cuma tinggal sebentar lagi... dan mungkin besok tak mungkin ada kesempatan untuk ku kecap lagi. Bila duka, bila senang, aku mohon dengan sangat padaMu .... agar hati kembali kepada pemiliknya. Waktu yang berlari, tidak akan pernah kembali kepadaku lagi. Bila perih, bila sedih, airmata ini bukanlah segalanya. Hanya padaMu Ya Allah aku selalu berserah. Hanya padaMu Ya Allah aku selalu berpasrah. Karena kutahu segalanya bergantung padaMu Ya Illahi, Dan kutahu jua, hanya PadaMu semua akan bermuara. Ya Allah, Tuhan yang menguasai hati. Aku telah lupa sentiasa bersalah. Hanya padaMu hatiku ini ingin kembali. Jangan biarkan aku sesat dan teraniaya karena perbuatanku sendiri. Jika tanpa ampunanMu, jika tanpa rahmat dan cintaMu, sesungguhnya akulah insan paling rugi di dunia dan akhirat. Ya Tuhanku yang Maha Mengampuni, tiadalah tempat untuk aku kembali dan rujuki selainMu Ya Robbi ... aku yang lemah dan tiada daya upaya, hanya padaMu aku benar-benar berharap. Bantulah aku pelihara diriku Ya Robbi, bantulah aku menjaga perbuatan, perkataan, pendengaran, dan penglihatan wahai Tuhan yang Maha Memelihara. Peringatilah aku saat aku tersalah dengan teguran belas kasihanMu Ya Rahiim. Ampuni aku Ya Allahku, aku ini hambaMu yang bodoh lagi tidak sempurna... Maafkan aku sahabat-sahabatku dunia dan akhirat kerana ketidaksempurnaanku .....

Wass.
Yang tak pernah luput dari dosa dan khilaf KHAKA ... senyum selalu ...

SUARA YANG DIDENGAR MAYAT

"Ada satu email dari seoarang sahabat beberapa tahun lalu yang selalu mengingatkan saya. Dan sekarang saya akan membaginya dengan Anda."

Yang akan mengikuti kita setelah kita meninggal dan menjadi mayat adalah 3 (tiga) perkara, antara lain :

Keluarga, Hartanya, dan Amalnya.      
Ada Dua Yang Kembali Dan Satu akan Tinggal Bersamanya ;
Keluarga Dan Hartanya Akan Kembali      
Sementara Amalnya Akan Tinggal Bersamanya.

Maka ketika Roh Meninggalkan Jasad ...
Terdengarlah Dari Langit Memekik,
 "Wahai Fulan Anak Si Fulan..      
Apakah yang Telah Meninggalkan Dunia,    
Atau Dunia Yang Meninggalkanmu      
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Harta Kekayaan,    
Atau Kekayaan Yang Telah Menumpukmu Dunia,    
Atau Dunia Yang Telah Menumpukmu      
Apakah Kau Yang Telah Mengubur Dunia,      
Atau Dunia Yang Telah Menguburmu."

Ketika Mayat Tergeletak Akan Dimandikan....
Terdengar Dari Langit Suara Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Mana Badanmu Yang Dahulunya Kuat,
Mengapa Kini Terkulai Lemah Mana Lisanmu Yang Dahulunya Fasih,
Mengapa Kini Bungkam Tak Bersuara Mana Telingamu Yang Dahulunya Mendengar,
Mengapa Kini Tuli Dari Seribu Bahasa Mana Sahabat-Sahabatmu Yang Dahulunya Setia,
Mengapa Kini Raib Tak Bersuara"

Ketika Mayat Siap Dikafan...
Suara Dari Langit Terdengar Memekik,
 "Wahai Fulan Anak Si Fulan
Berbahagialah Apabila Kau Bersahabat Dengan Ridha
Celakalah Apabila Kau Bersahabat Dengan Murka Allah
Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Kini Kau Tengah Berada Dalam Sebuah Perjalanan
Nun Jauh Tanpa Bekal
Kau Telah Keluar Dari Rumahmu
Dan Tidak Akan Kembali Selamanya
 Kini Kau Tengah Safar Pada Sebuah Tujuan
Yang Penuh Pertanyaan."

Ketika Mayat Diusung...
Terdengar Dari Langit Suara Memekik
Wahai Fulan Anak Si Fulan....
Berbahagialah Apabila Amalmu Adalah Kebajikan
Berbahagialah Apabila Matimu Diawali Tobat
Berbahagialah Apabila Hidupmu Penuh Dengan Taat. "

Ketika Mayat Siap Dishalatkan ....
Terdengar Dari Langit Suara Memekik,
" Wahai Fulan Anak Si Fulan ...
Setiap Pekerjaan Yang Kau Lakukan,
Kelak Kau Lihat Hasilnya Di Akhirat,
Apabila Baik, Maka Kau Akan Melihatnya Baik,
Apabila Buruk, Kau Akan Melihatnya Buruk. "

Ketika Mayat Dibaringkan Di Liang Lahat ...
Terdengar Suara Memekik Dari langit,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan....
Apa yang Telah Kau Siapkan Dari Rumahmu Yang Luas Di Dunia,
Untuk Kehidupan Yang Penuh Gelap Gulita Di Sini,
Wahai Fulan Anak Si Fulan ...
Dahulu Kau Tertawa,
Kini Dalam Perutku Kau Menangis,
Dahulu Kau Bergembira,
Kini Dalam Perutku kau Berduka,
Dahulu Kau Bertutur Kata,
Kini Dalam Perutku Kau Bungkan Seribu Bahasa. "

Ketika Semua Manusia Meninggalkannya Sendirian....
Allah Berkata Kepadanya
 "Wahai Hamba-Ku.....
Kini Kau Tinggal Seorang Diri,
Tiada Teman Dan Tiada Kerabat,
Di Sebuah Tempat Kecil, Sempit Dan Gelap..
Mereka Pergi Meninggalkanmu.. Seorang Diri..
Padahal,
Karena Mereka Kau Pernah Langgar Perintahku
Hari Ini ....
Akan Kutunjukan Kepadamu Kasih Sayang-Ku,
Yang Akan Takjub Seisi Alam
Aku Akan Menyayangimu
Lebih Dari Kasih Sayang Seorang Ibu Pada Anaknya".

Kepada Jiwa-jiwa yang tenang  Allah Berfirman,
Wahai Jiwa Yang Tenang,
Kembalilah Kepada Tuhanmu,
Dengan Hati Yang Puas Lagi Diridhai-Nya,
Maka Masuklah Ke Dalam Jamaah Hamba-Hamba-Ku, Dan Masuklah Ke Dalam Jannah-Ku"

Semoga Kematian akan menjadi pelajaran yang berharga  bagi kita dalam menjalani hidup ini. Rasulullah SAW. menganjurkan kita untuk senantiasa mengingat mati (maut) dan dalam sebuah hadistnya yang lain, beliau bersabda "wakafa bi almauti wa'idha", artinya, cukuplah mati itu akan menjadi pelajaran bagimu!

Semoga bermanfaat bagi kita semua, Amiin....


MASIH ADAKAH RASA MALU INI


Malu .... selalu rasa itu menggelayut dalam hatiku. Betapa tidak, diantara bertubi cobaanNya, berapa nikmat yang telah aku rengkuh? Banyak ... sangat banyak. Aku masih sehat, berpikir dan bernafas sampai detik ini sudah merupakan anugrah terbesarMu. Aku harus sangat bersyukur.
Malu rasanya jika aku selalu meminta dan menuntut untuk pencapaian hidup yang lebih baik, sementara banyak kaumku hidup berkekurangan. 
Malu rasanya jika aku masih bisa tertawa lepas, sementara masih banyak kaum yang menangis. 
Malu rasanya jika perut ini selalu menuntut makanan yang lebih enak, sementara banyak kaum yang berusaha keras untuk sekedar bisa makan. 
Malu rasanya menuntut sebuah rumah yang lebih layak lagi, sementara banyak kaum yang tidur hanya beralas bumi dan beratapkan langit. 
Malu rasanya ......
Dan aku sangat bersyukur bahwa Engkau masih memberiku rasa malu ini ....

ENAM WASIAT IMAM GHAZALI



SUBHANALLAH ... 
Suatu hari, Imam Al Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu sang Imam bertanya :



1. “Apa yang PALING DEKAT dengan diri kita di dunia ini ?”
Murid-muridnya menjawab: “Orang tua, guru, kawan dan sahabatnya”. 
Imam Ghazali menjelaskan, “Semua jawaban itu benar. Tapi yang paling dekat dengan kita adalah  “MATI”. Sebab itu memang janji Allah SWT bahwa dalam Surah Ali 'Imran ayat 185.
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.
Maut bisa datang menjemputmu sewaktu-waktu tanpa kita tahu, dimanapun kamu bersembunyi, maut tetap akan datang menghampirimu tanpa kamu tahu kapan itu terjadi. Tapi ingat pula sabda Rasululloh saw :“Janganlah kamu takut mati karena pasti terjadi, janganlah kamu minta mati datang kepadamu dan janganlah kamu berbuat yang mendekatkan dirimu dengan mati”.
Lalu Imam Ghazali meneruskan dengan pertanyaan yang kedua ;

2. “Apa yang PALING JAUH dari diri kita di dunia ini ?”.
Murid-muridnya menjawab: “Negeri Cina, bulan, matahari dan bintang-gemintang”.
Lalu Imam Ghazali menjelaskan bahwa semua jawaban itu benar. Tapi yang paling benar adalah “MASA LALU”.
Walau dengan cara apapun kita tidak pernah akan dapat kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kamu harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang menjadi lebih baik dari hari sebelumnya dan isi dengan beribadah kepada Allah SWT dan berbuatlah baik kepada sesama manusia agar kamu selamat.

3. “Apa yang PALING BESAR di dunia ini ?”.
Murid-muridnya menjawab: “Gunung, bumi, matahari”.
Lalu Imam Ghazali menjelaskan bahwa semua jawaban itu benar. Tapi yang paling benar adalah “NAFSU”
Firman Allah SWT dalam Surah Al A'raf ayat 179,
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi”.
Kemarahan, perzinahan, pencurian, perkelahian, peperangan dan pembunuhan, semua dimulai dari “nafsu” yang tidak terkendali. Oleh karena itu berhat-hatilah dengan nafsu-mu, jangan sampai nafsu membawa kamu ke neraka.

4. “Apa yang PALING BERAT di dunia ini ?”
Murid-muridnya menjawab: “Besi, gajah”.
Semua jawaban itu benar. Tapi yang paling berat adalah “MEMEGANG AMANAH”
Firman Alloh SWT dalam surah Al Ahzab:72.
”Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah tsb, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena tidak dapat memegang amanahnya.”
Memegang amanah itu berat, dan siapa yang berkhianat dan tidak memegang amanah, ialah orang munafik.

5. “Apa yang PALING RINGAN di dunia ?”
Ada yang menjawab: “Kapas, angin, debu dan dedaunan”.
Semua itu benar, kata Imam Ghazali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah “MENINGGALKAN SHALAT”.
Gara-gara cinta kepada lawan jenis, cinta kepada dunia (kekayaan), keluarga, pekerjaan kamu dengan ringan meninggalkan sholat, gara-gara bermusyawarah kamu dengan ringan meninggalkan shalat.

6. “Apakah yang PALING TAJAM di dunia ?”
Murid-muridnya menjawab serentak: “Pedang !”
Imam Ghazali membenarkan, tapi yang paling tajam adalah “LIDAH MANUSIA”.
Karena melalui lidahnya, manusia bisa melukai dan menyakiti hati saudara dan tetangganya sendiri. Luka akibat pedang masih bisa diobati, tapi luka kerena lidah kemana obat akan dicari.


Dari berbagai sumber

SEMENIT SAJA


Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000
apabila dibawa ke masjid
untuk disumbangkan; tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan!

Betapa lamanya melayani Allah selama lima
belas menit namun
betapa singkatnya kalau kita melihat film.

betapa sulitnya
untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan) namun
betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan pacar / teman
tanpa harus berpikir panjang-panjang.

Betapa asyiknya
apabila pertandingan bola diperpanjang waktunya ekstra namun
kita mengeluh ketika khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa.

Betapa sulitnya
untuk membaca satu lembar Al-qur'an tapi
betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.

Betapa getolnya
orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser namun
lebih senang berada di saf paling belakang ketika berada di Masjid

Betapa Mudahnya
membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu birahi semata, namun
alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama 30 hari ketika berpuasa.

Betapa sulitnya
untuk menyediakan waktu untuk sholat 5 waktu, namun
betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada
saat terakhir untuk event yang menyenangkan.

Betapa s ulitnya
untuk mempelajari arti yang terkandung di dalam al qur'an, namun
betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain.

Betapa mudahnya
kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran namun
betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci Al-Quran.
Betapa Takutnya kita apabila dipanggil Boss dan cepat-cepat menghadapnya namun betapa kita  berani dan lamanya untuk menghadapNya saat kumandang azan menggema.